gerindrajabar.id — Program ketahanan pangan mulai dikembangkan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kuningan. Bagi Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Kuningan dari Fraksi Gerindra, Sri Laelasari, program tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan lahan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pembinaan warga binaan.
Dukungan itu disampaikan Sri Laelasari saat menghadiri rapat koordinasi bersama pihak Lapas Kelas IIA Kuningan dan Koperasi Tani Merdeka Indonesia Cabang Kuningan, Senin, 7 September 2026. Pertemuan tersebut membahas pengembangan program ketahanan pangan sekaligus pemberdayaan sumber daya manusia di lingkungan Lapas.
Sri Laelasari Dukung Pembinaan Lewat Pelatihan Pertanian
Sri Laelasari melihat kegiatan pertanian sebagai sarana yang dapat memberikan pengalaman sekaligus pelatihan keterampilan bagi warga binaan. Aktivitas produktif tersebut juga memiliki nilai ekonomi sehingga dapat menjadi bekal ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.
Menurut Sri, keberhasilan program membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Kolaborasi antara Lapas Kuningan, Tani Merdeka Indonesia, dan pemangku kebijakan di daerah perlu terus dikembangkan agar kegiatan tidak berhenti pada pemanfaatan lahan.
Pendekatan tersebut membuat program ketahanan pangan memiliki manfaat yang lebih luas. Selain menghasilkan komoditas pertanian, kegiatan ini dapat menciptakan ruang pembelajaran bagi warga binaan untuk mengembangkan kemampuan dan kemandirian.
Lahan Palutungan Disiapkan untuk Budidaya
Salah satu rencana yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah pengembangan lahan di kawasan Palutungan. Area itu direncanakan menjadi lokasi budidaya sayuran dan tanaman pangan.
Sebelum pengembangan dilakukan, sejumlah kebutuhan teknis perlu dipersiapkan. Pembahasannya mencakup akses jalan, sistem irigasi, serta sarana dan prasarana pertanian yang menunjang kegiatan di lapangan.
Kepala Lapas Kelas IIA Kuningan, Eries Sugianto, menyatakan kesiapan pihaknya menjalankan program secara berkelanjutan. Lahan tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan produk pertanian, tetapi juga menjadi sarana pembinaan kemandirian bagi warga binaan.
Pelatihan Pertanian Disiapkan
Ketua Tani Merdeka Indonesia, Taufik Hendriayawan, menyiapkan pendampingan teknis melalui roadmap pelatihan selama tiga bulan. Materinya mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pertanian organik, hingga kewirausahaan.
Program pelatihan juga akan menyasar pegawai Lapas melalui Diklat Tahap 1. Mereka dipersiapkan agar memiliki kemampuan untuk mendampingi pelaksanaan kegiatan pertanian.
Sebagai langkah berikutnya, Lapas Kuningan bersama Tani Merdeka Indonesia akan melakukan survei ke kawasan Palutungan. Survei tersebut dilakukan untuk memetakan kondisi dan kebutuhan teknis sebelum program dikembangkan.
Kesepakatan kerja sama selanjutnya akan dituangkan dalam Nota Kesepahaman (MoU). Bagi Sri Laelasari, dukungan lintas sektor menjadi bagian penting agar program ketahanan pangan sekaligus pembinaan keterampilan warga binaan dapat berjalan secara nyata dan berkelanjutan.




