CARI BERITA & INFORMASI

Dede Kusdinar: Sapa Warga Bisa Jadi Ruang Menjaga Adat Budaya Garut

Dede Kusdinar membahas peran Sapa Warga dalam menjaga adat budaya Garut

gerindrajabar.id — Pelestarian adat dan budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan berbagai tradisi yang sudah ada. Kesadaran masyarakat untuk mengenal, memahami, dan ikut merawat warisan budaya juga menjadi bagian penting agar kekayaan tersebut tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Anggota Fraksi Partai Gerindra DPRD Jawa Barat dari daerah pemilihan Kabupaten Garut, Dede Kusdinar, menilai kegiatan Sapa Warga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu ruang untuk memperkuat kesadaran tersebut. Selain menjadi sarana menyerap aspirasi masyarakat, kegiatan yang dilaksanakan secara berkala itu dapat diisi dengan pengenalan dan apresiasi terhadap budaya lokal.

Menurut Dede, Garut memiliki kekayaan adat dan seni tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Potensi tersebut merupakan warisan yang perlu dijaga agar tidak kehilangan keberadaannya di tengah perkembangan zaman.

Budaya Garut Perlu Terus Dikenalkan

Beragam tradisi dan kesenian berkembang di Kabupaten Garut. Di antaranya seni ketangkasan Domba Garut serta ritual adat Rebo Wekasan yang berkembang di Kampung Pulo.

Keberadaan berbagai tradisi tersebut, menurut Dede, menunjukkan bahwa kekayaan budaya daerah tidak hanya berupa pertunjukan seni. Nilai-nilai sosial, kebiasaan masyarakat, serta tradisi yang diwariskan antargenerasi juga menjadi bagian dari identitas daerah.

Karena itu, kegiatan Sapa Warga berbasis budaya dapat menjadi kesempatan untuk mempertemukan masyarakat dengan berbagai potensi budaya di daerahnya. Forum tersebut juga dapat digunakan untuk mendengar aspirasi mengenai kebutuhan pelestarian budaya.

Generasi Muda Jadi Bagian Penting

Dede melihat perubahan gaya hidup dan perkembangan teknologi menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan budaya lokal. Salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah semakin berkurangnya ketertarikan generasi muda untuk mengenal dan mempelajari tradisi daerah.

Kondisi tersebut membuat literasi budaya perlu diperkuat. Masyarakat, terutama generasi muda, perlu mendapatkan akses untuk mengenal sejarah, seni, serta berbagai tradisi yang berkembang di lingkungan mereka.

Menurut Dede, penguatan literasi budaya dapat menumbuhkan kembali ketertarikan masyarakat terhadap warisan daerah. Upaya tersebut sekaligus menjadi cara agar budaya tidak hanya dikenal sebagai peninggalan masa lalu, tetapi tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Sarana Budaya Perlu Mendapat Dukungan

Pelestarian adat dan budaya Garut juga membutuhkan dukungan dari pemerintah, terutama dalam penyediaan ruang untuk kegiatan seni dan budaya. Agenda pertunjukan maupun kegiatan kebudayaan akan lebih mudah berkembang apabila masyarakat memiliki tempat yang memadai untuk beraktivitas.

Dede menilai keberadaan gedung kesenian yang nyaman idealnya tersedia di setiap kabupaten dan kota. Fasilitas tersebut dapat menjadi ruang bagi pelaku seni untuk berkarya sekaligus menjadi tempat masyarakat mengenal lebih dekat budaya daerah.

Melalui Sapa Warga, aspirasi mengenai kebutuhan tersebut dapat menjadi bahan masukan dalam memperkuat kebijakan pelestarian budaya. Dengan keterlibatan masyarakat, pemerintah, dan pelaku seni, upaya menjaga adat budaya Garut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi terus berkembang sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.