CARI BERITA & INFORMASI

Andhika Surya Gumilar: Kesiapan SDM Jadi Kunci Tekan Pengangguran Pemuda Jawa Barat

Andhika Surya Gumilar membahas kesiapan SDM untuk menekan pengangguran pemuda Jawa Barat

gerindrajabar.id — Jumlah pemuda yang besar dapat menjadi kekuatan bagi perekonomian Jawa Barat jika diiringi kesiapan memasuki dunia kerja. Karena itu, kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu faktor penting agar bonus demografi tidak justru menghadirkan persoalan pengangguran.

Anggota DPRD Jawa Barat, Andhika Surya Gumilar, menilai kesiapan tersebut perlu dibangun sejak bangku pendidikan. Lulusan sekolah maupun perguruan tinggi perlu memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri agar lebih mudah beradaptasi ketika memasuki dunia kerja.

Persoalan ini sejalan dengan target Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menurunkan tingkat pengangguran pemuda secara signifikan pada 2029. Andhika menilai target tersebut perlu dibarengi langkah konkret yang memperkuat hubungan antara pendidikan, keterampilan, dan kebutuhan pasar kerja.

Pendidikan Perlu Terhubung dengan Dunia Kerja

Menurut Andhika, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan. Proses pembelajaran juga perlu memberikan bekal yang relevan dengan perkembangan dunia kerja, termasuk pengalaman dan kemampuan beradaptasi.

Kerja sama antara sekolah, SMK, perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia usaha perlu diperkuat. Program magang, pelatihan kerja, sertifikasi kompetensi, serta pembinaan kewirausahaan dapat menjadi jembatan bagi pemuda sebelum memasuki dunia kerja.

SMK memiliki posisi strategis karena peserta didiknya dipersiapkan dengan keterampilan tertentu. Namun, kompetensi tersebut perlu terus disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri yang berubah cepat.

Selain kemampuan teknis, pemuda juga membutuhkan keterampilan digital, komunikasi, pemecahan masalah, kerja sama tim, serta kemampuan belajar secara berkelanjutan.

Pemuda Punya Pilihan Selain Menjadi Pekerja

Upaya menekan pengangguran pemuda Jawa Barat juga tidak harus selalu diarahkan pada pekerjaan formal. Andhika melihat kewirausahaan sebagai pilihan yang perlu diperkuat agar anak muda dapat menciptakan sumber penghasilan sekaligus membuka lapangan kerja.

Sektor ekonomi kreatif, digital, UMKM, pertanian modern, peternakan, dan perikanan memiliki peluang untuk dikembangkan sesuai potensi daerah. Pilihan tersebut dapat membuka lebih banyak kesempatan ekonomi bagi pemuda di daerahnya sendiri.

Dengan demikian, generasi muda tidak hanya dipersiapkan sebagai pencari kerja, tetapi juga sebagai pelaku usaha yang mampu melihat peluang dan menciptakan aktivitas ekonomi baru.

Data Lulusan Perlu Jadi Dasar Kebijakan

Andhika juga menilai pemerintah membutuhkan pemetaan yang lebih baik mengenai kondisi pemuda setelah menyelesaikan pendidikan. Informasi mengenai lulusan yang melanjutkan studi, bekerja, berwirausaha, atau masih mencari pekerjaan dapat membantu pemerintah menentukan kebijakan yang lebih tepat.

Dinas Pendidikan Jawa Barat telah memiliki instrumen survei lulusan SMA untuk mengetahui rencana siswa setelah menyelesaikan pendidikan. Data tersebut, menurut Andhika, dapat dikembangkan menjadi sistem pemetaan kebutuhan SDM.

Dengan mengetahui profil lulusan dan kebutuhan pasar kerja, pemerintah dapat menyusun program pelatihan maupun penempatan kerja secara lebih tepat sasaran.

Akses Pendidikan Harus Tetap Terbuka

Kesiapan SDM juga berkaitan dengan kesempatan memperoleh pendidikan dan keterampilan. Andhika mengingatkan agar kondisi ekonomi keluarga tidak menjadi penghalang bagi pemuda untuk terus mengembangkan kemampuan.

Semakin luas akses terhadap pendidikan, pelatihan, dan informasi pekerjaan, semakin besar pula peluang generasi muda untuk meningkatkan daya saingnya.

Karena itu, penanganan pengangguran perlu dilakukan sejak hulu hingga hilir. Pendidikan dan keterampilan harus terhubung dengan akses pekerjaan, pengalaman magang, hingga penciptaan lapangan kerja.

Bonus Demografi Harus Jadi Kekuatan

Andhika berharap target penurunan pengangguran pemuda pada 2029 dapat diwujudkan melalui kerja bersama. Pemerintah membutuhkan dukungan sekolah, perguruan tinggi, dunia usaha, industri, dan organisasi kepemudaan.

Menurutnya, jumlah pemuda yang besar merupakan modal bagi Jawa Barat. Namun, potensi tersebut harus diikuti peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan agar mampu menjadi kekuatan ekonomi.

Dengan membangun kesiapan generasi muda sejak pendidikan hingga memasuki dunia kerja, bonus demografi diharapkan dapat menjadi peluang bagi pertumbuhan ekonomi sekaligus membantu menekan pengangguran pemuda Jawa Barat.