gerindrajabar.id — Perkebunan menjadi salah satu sektor agribisnis yang berpotensi memperkuat perekonomian Jawa Barat. Pengembangannya tidak hanya membutuhkan perluasan areal tanam, tetapi juga pengelolaan yang mampu meningkatkan nilai ekonomi komoditas hingga memberikan manfaat bagi masyarakat.
Anggota Fraksi Partai Gerindra DPRD Jawa Barat dari daerah pemilihan Kabupaten Garut, Dede Kusdinar, menilai perkembangan perkebunan kopi di Garut sebagai salah satu potensi yang dapat terus dikembangkan. Berdasarkan data BPS yang disampaikan Dede, luas areal perkebunan kopi di Garut meningkat dari 4.742 hektare pada 2024 menjadi 6.246 hektare pada 2026.
Artinya, terdapat penambahan areal tanam kopi sekitar 1.504 hektare dalam kurun tersebut.
Perluasan Kopi Buka Peluang Ekonomi Garut
Dede mengatakan bertambahnya areal perkebunan memberikan peluang terhadap peningkatan produksi dan produktivitas komoditas. Jika dikelola secara konsisten, perkembangan tersebut dapat memperkuat kontribusi sektor perkebunan terhadap perekonomian daerah.
Menurutnya, potensi tersebut perlu diikuti dengan pengelolaan yang terintegrasi. Pengembangan perkebunan kopi di Garut bahkan mulai dipadukan dengan sektor pariwisata melalui konsep pengelolaan berbasis kewilayahan.
Integrasi tersebut dapat memberikan manfaat ganda. Perkebunan tetap menjadi sumber produksi pertanian, sementara kawasan penghasil kopi juga memiliki peluang dikembangkan sebagai destinasi wisata.
Dengan demikian, aktivitas ekonomi yang muncul tidak hanya berasal dari hasil perkebunan, tetapi juga dari kegiatan pariwisata dan usaha masyarakat di sekitarnya.
Dede Kusdinar Minta Potensi Perkebunan Dipetakan
Agar pengembangan perkebunan lebih terarah, Dede meminta pemerintah daerah segera melakukan pemetaan wilayah. Langkah tersebut diperlukan untuk mengetahui kawasan yang masih memiliki peluang pengembangan komoditas perkebunan.
Pemetaan juga tidak harus berfokus pada kopi. Jawa Barat memiliki sejumlah komoditas perkebunan lain yang memiliki potensi ekonomi, seperti teh, tebu, kakao, kelapa, vanila, dan akar wangi.
Dengan pemetaan yang lebih jelas, pengembangan komoditas dapat disesuaikan dengan karakteristik dan potensi masing-masing wilayah. Pendekatan tersebut diharapkan membuat program perkebunan lebih tepat sasaran.
Hilirisasi dan Regenerasi Petani Perlu Diperkuat
Dede menilai perluasan areal tanam harus diikuti langkah lanjutan agar peningkatan produksi tidak berhenti pada komoditas mentah.
Hilirisasi menjadi salah satu hal yang perlu segera diperkuat. Pengolahan hasil perkebunan di daerah dapat meningkatkan nilai tambah sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Selain hilirisasi, regenerasi petani juga perlu mendapat perhatian. Keberlanjutan sektor perkebunan akan sangat bergantung pada kemampuan menghadirkan generasi baru yang mau melanjutkan dan mengembangkan usaha pertanian.
Dukungan terhadap petani juga perlu diperkuat melalui fasilitasi benih unggul sesuai komoditas yang dikembangkan. Ketersediaan benih yang berkualitas dapat membantu menjaga produktivitas sekaligus meningkatkan daya saing hasil perkebunan.
Menurut Dede, sinergi Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan pemerintah kabupaten dan kota menjadi bagian penting dalam memastikan potensi agribisnis dapat terus berkembang.
Penguatan perkebunan melalui perluasan areal, pemetaan potensi, hilirisasi, regenerasi petani, serta dukungan benih unggul diharapkan mampu membuat sektor tersebut memberikan kontribusi yang semakin besar terhadap perekonomian Jawa Barat.




